Sabtu, 12 Maret 2011

Ima, Ai ni Yukimasu/ BE WITH YOU: Film romantis Jepang yang benar-benar membuatku menangis setiap kali melihatnya...

Pada awalnya, kamu akan mengira film ini biasa saja, hanya film so sweet seperti film-film lainnya, akan tetapi di tengah film ini kamu akan dibuat penasaran, "sebenarnya bercerita tentang apa film ini, dan apa inti dari film ini?". penonton akan dibiarkan penasaran untuk beberapa saat, tetapi lama-kelamaan kamu pasti akan mengerti jalan cerita film ini dan tak mengira akhirnya akan seperti ini.

Film ini bercerita tentang Mio dengan Takumi.
Mio dan Takumi bersekolah di sekolah yang sama semasa SMA, dan mereka berada dalam kelas yang sama pula. dua tahun duduk bersampingan di kelas, mereka tak pernah memulai percakapan.
tak disangka-sangka, mereka memiliki perasaan yang sama.
berpisah saat kuliah ternyata tidak memutuskan cinta mereka. perasaan itu tetap tersimpan rapi dalam benak Mio dan begitu pula Takumi selama berpisah di jenjang universitas.
Berbekal pulpen yang "terbawa" oleh Mio saat menandatangani buku kenangan waktu SMA, mereka pun bertemu kembali dan akhirnya mengerti satu sama lain. akan tetapi penyakit yang diderita Takumi membuatnya menarik diri dari Mio. Tapi memang kekuatan cinta tak dapat dilawan, Mio pun memberanikan diri untuk bertemu dan memutuskan untuk tetap bersama Takumi. dalam selang waktu tersebut, Mio mendapatkan pengalam nyang sangat berharga bagi dirinya, yang membuatnya berani menyapa kembali Takumi.
mereka berduapun akhirnya menikah dan memiliki anak yang lucu bernama Yuji. Yuji anak yang mandiri, cerdas, dan sangat menyayangi kedua orang tuanya. Sayangnya, Mio meninggal karena suatu alasan [yang tidak dijelaskan dalam film ini] dalam usia yang masih muda, 28 tahun, meninggalkan Yuji yang berumur 5 tahun dan Takumi, hanya berdua.
Pada suatu musim hujan, Mio datang dan tinggal bersama mereka kembali. Hanya 6 minggu, namun menyisakan kenangan yang teramat indah di benak Takumi dan Yuji.
Mereka tetap mengenang Mio sampai Yuji beranjak dewasa, mengenang kenangan indah mereka di musim hujan bertahun-tahun yang lalu.


Film ini dibuat dengan setting yang damai, membuat penontonnya merasakan hal yang sama saat menontonnya. aku tidak pandai mendeskripsikannya, tetapi banyak makna yang bisa didapat dari film ini. Film ini mengajarkan kepada kita makna cinta yang tulus, antara dua sejoli di masa remaja, bagaimana mereka mulai mengenal, cinta tulus Ayah dan Ibu kepada anaknya, dan di antara mereka berdua.


Setting film ini mengambil lokasi-lokasi pedesaan di Jepang, lengkap dengan ramah-tamah penduduk di sana. rutinitas masyarakat desa yang sederhana, melambangkan kesejahteraan jiwa yang berada di sana. lingkungan yang asri, hutan lindung yang teduh, bahkan kebun bunga matahari yang sangat indah. membuatku ingin ke sana. :D

Hari ini aku sudah tiga kali menyaksikan film ini. Hari ini juga aku sudah tiga kali menangis di depan layar monitor.
Aku tinggal di asrama dan menonton film ini bersama. dan sungguh, perhatikan saja semua yang keluar dari ruang komputer pasti bermata sembab. mereka semua menangis. dan wajar jika mereka menangis, karena film ini sangat menyentuh.
kalau kalian mencari film romantis yang memiliki makna, maka kalian patut menonton film ini.
bedakan antara menonton film romantis lainnya dan film ini. kamu akan mengerti mengapa film ini mampu membuatmu menangis...

cek filmnya: WATCH ME
selamat menikmati!

Jumat, 25 Februari 2011

Sesuatu yang bermula dari cerita ka Bela Dirk itu…[episode 1]

Insiden yang lagi “HOT”—sebenernya setiap kali ngomong ini saya selalu berpikir, kenapa ga “warm” aja ya? Oke, GA PENTING—di kalangan anak axivic [cewe khususnya]beberapa jam yang lalu ini berawal dari keisengan salah seorang anggota kami menyimpan halaman blog kakak angkatan 2 tahun di atas kami yang belum lama ini dirilis... blog itu isinya cerita-cerita menarik dan mengesankan dari kaka-kakak itu… ada yang lucu, gila, keren, ga nyangka, pokoknya seru2 deh postingannya…

Nah, intinya, tadi malam saya sedang mencari informasi tentang sebuah universitas, iseng2 buka blog itu, datanglah nirmala fauzia [baca: eyang], dia nimbrung ikutan baca…dan kami menemukan sesuatu di blog tersebut....

Malam itu, kita baca ceritanya ka Bela Dirk yang serem itu… tentang ka Bela dan wanita yang tertawa [spoiler: ceritanya waktu awal masuk ke IC, dia dapet kamar yang paling deket sama cozy corner di gd. F, yang depan poli itu loh. Waktu beres2 ka Bela liat ada 2 cewek yang jalan2 di rumput, singkat cerita ka Bela cerita ke pa Oji, ternyata setelah melapor sama pa Oji—wakamad keasramaan yang ternyata menanggapi cerita ka Bela tentang siswi yang menginjak rumput dengan serius—yang diliat ka Bela itu bukan seseorang, tapi sesuatu...lengkapnya: ikuti linknya di atas]. malam itu berakhir dengan adegan aku dan eyang saling berpandangan berpikir ke gedung F yang berada tepat di samping living room tempat kita berada.merinding...

Besok paginya aku udah lupa cerita itu, tapi si eyang masih inget, dia ngingetin aku dan akhirnya kita sepakat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi….

Pagi itu aku keluar pintu beberapa detik sebelum hitungan “zero”, dan waktu sampe ke barisan anak axivic, ternyata si eyang udah cuap2 sama temen2 yang lain, dan alethea nyeletuk “eh, fuzta juga ngeliat loh”. Sontak kami semua terbelalak *efek lebaynya dapet banget pagi itu! semua yang masih pada takut sama ceritanya ka Bela jadi tambah penasaran*akhirnya kami semua semakin seru bercerita di sepanjang perjalanan ke kelas.

Di kelas SKI…. Aku dan eyang yang kebetulan memang sekelas melanjutkan perbincangan dengan nenek [rarasati] dan elfi. Ternyata ada banyak cerita semacam itu di sekolah ini, dari mulai si A yang berteriak histeris waktu istirahat [sakit] di poli, sampe wanita misterius di depan pantry gedung I. Dan pagi itu kami berhasil mengisi waktu menunggu pelajaran dengan cerita-cerita penyejuk hati itu…

Siang harinya, aku ketemu Fuzta! Aku langsung aja ngedeketin dia, dan ternyata dia bisa baca pikiran aku! “wah, gua tau nih, lu pasti mau nanyain itu kan?? Gak. gua ga mau ngomong tentang itu”. Berapa kali pun aku memaksa si fuzta teuteup keukeuh ga mau cerita tentang kejadian yang dia alamin. Wah, semakin seru sepertinya. Oke. Aku akan mencoba strategi lain. Kalo si fuzta teuteup keukeuh ga mau cerita juga, terpaksa Tanya narasumber kedua: teman sekamarnya.

Mau tahu kelanjutan ceritanya?
tunggu setelah investigasi saya hari ini


Spoiler : [next episode: kita liat gimana cerita ini dari sudut pandang anak kamarnya fuzta dan juga Pa Oji…]

Jumat, 18 Februari 2011

Tausiyah at that night

It was around 8pm when the representative of faith Imtaq Division of OSIS told me that I will be the moderator for the meeting 2 days later. Okay then, I will try my best.
The next two days passed so fast, as I realize that today is my day. I am going to be a moderator for meeting with my friends. The meeting goes well, and I think I need to publish what my friend said in her speech at that night.
She played a song, and explained the values contained in this song. Here is the lyric of the song:

In the depth of my heart, sheltered a pure hope
You don’t have to doubt it
With your piety that prettify your self
It’s unnecessary with words

Indeed, even tough I can’t reveal my feeling
But your anticipation for me, don’t blame it

Reff:
If you really chose me
Wait for me ‘til I come
I bring you to the eternal heaven

This is not the right time for me to response your love
Wait for me in the boundary of time

[Original song translated to English from Indonesian]
Song/lyrics: Deden Supriadi
Singer: edcoustic


This song is meaningful, especially for the teenager. Just like my age. And I realize that this is an inspiring song. You should listen to this song:
This song depicts a girl who keeps her purity of love for her God, and never let it go for another love. Because she has already knew that the real love is God’s love only. Even when a gentleman comes to her and asks or her love, she verifies it: she asked him to wait for her until the right time has come.
This is how girls should be. We knew that teenage is the critical time when a child start to grow up and try to find the meaning of things that strange for them. In this phase, children became hard to be controlled and tend to argue with the parents. That’s why many children turn out disobedient in this phase. And some others meet their first love.
This is what the song tried to confirm. This song gives a good example how teenagers should do in order facing this phenomenon.
I agree with this song, and my friend’s statement. And I think everything will be beautiful when it happen at the right time, as well love, love will be beautiful at its own time. So if you want to taste the beauty of love, don’t ever try to harm the beauty of love, or you will never experience it.

[thank you for my friend, Iskarima Syahida]

Senin, 31 Januari 2011

The Old Magazine on My Desk

I was looking at my old magazine, and my eyes were stunned by an article, and it was Han Awal, a legendary Indonesian architect. This page was inspired me so much, as I trying to create more art since I have found this article. And I keep wondering if I could get someone to go somewhere, it must be him. It is because of his experience and his expertise in designing buildings in Indonesia. Do you know the great building right in the opposite of Bundaran HI? It was designed by him, aesthetically describing the journey of Indonesian history. Also one of the museum of Indonesia, you should go there dude!

Can you guess where will I go with him? I’ll bring him to Baghdad before the invasion of Hulagu Khan because it‘s the most incredible time when Iraq was in its glory time—just like Mr. Ihsan (my Islamic History teacher) said, Baghdad in that time was the finest city, the most incredible thing at that time. You should see it by your self. Unfortunately, it’s impossible to do now, considering the big attack of Mongol in that era. Han Awal, I will show him the beauty of Baghdad in Abbasiyah time, then I will take him home and work with him to build a beautiful building in Indonesia adapted from Baghdad’s art & architecture. He will be the architect, I will be the interior designer. It will be so C.O.O.L!

I'm sure it will, when the time has come

Rabu, 26 Januari 2011

Sesuatu yang Tidak Dimiliki Bangsa Ini

terinspirasi dari artikel yang ditunjukkan oleh guru sejarah saya, Pak Ipik Ernaka, artikel ini dari sudut pandang saya.....

Ya, Bangsa ini kaya akan sumber daya alamnya. Tak kurang dari delapan belas ribu seratus sepuluh pulau dimiliki Bangsa ini. Ada banyak sekali tambang menyebar di seluruh daerah yang dimiliki Bangsa ini. Tambang emas, tambang uranium, tambang batu bara, tambang minyak, tambang perak, tambang permata, tambang bauksit, tambang kokas, tambang belerang, dan banyak lagi. Betapa beruntungnya Bangsa ini, memiliki sumber daya tambang yang sangat bervariasi, Bangsa ini memiliki prospek masa depan yang sangat bagus.
Bangsa ini memiliki hutan yang sangat luas, bahkan hampir semua daratannya dulunya adalah hutan tropis, stepa, atau sabana. Sama sekali tak ada gurun di daerah yang ditempati Bangsa ini.

Bangsa ini juga memiliki sumber daya manusia yang sangat berlimpah, bahkan sampai-sampai Bangsa ini bingung bagaimana harus memanfaatkannya. Banyak sekali sumber daya manusia yang akhirnya terbengkalai begitu saja, bahkan tak jarang dari sumber daya manusia yang bagus “diambil” oleh bangsa yang lainnya.

Tak hanya itu, Bangsa ini juga memiliki lokasi yang strategis, tepat di garis khatulistiwa. Daerah yang sangat potensial untuk dilewati kapal-kapal perdagangan dan juga disinggahi bangsa-bangsa lain. Bangsa ini juga memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Hal ini berarti Bangsa ini memiliki iklim yang sangat cocok untuk melakukan aktivitas pertanian. Sudah sepatutnya Bangsa ini mengambil manfaat dari keuntungan yang mereka miliki ini. Karena letak geografisnya juga, Bangsa ini memiliki beribu-ribu bahkan berjuta-juta spesies berbeda di setiap jengkal tanahnya. Di laut, di darat, bahkan udara. Spesies endemik juga ditemukan di sini. Ada burung yang memiliki buntut “emas” di ujung timur daerah Bangsa ini, ada juga burung yang berkepala bergerigi dari salah tau pulau terkenal di tengah-tengah daerah milik Bangsa ini. Tak jarang bangsa lain iri dengan kekayaan Bangsa ini dan memutuskan untuk membawa spesies endemik dari Bangsa ini ke daerahnya untuk dibudidayakan.

Ada suatu hal yang sangat penting yang tidak dimiliki oleh Bangsa ini. Sebenarnya semuanya tergantung pada sudut pandang yang Anda miliki. Lewat kacamata saya, saya kira Bangsa ini kekurangan satu aspek dalam kehidupannya, SEMANGAT PERJUANGAN. Sebesar semangat untuk merdeka yang dimiliki Bangsa ini beberapa puluh tahun yang lalu, namun pada konteks pembangunan. Ya, semangat berjuang untuk menjadi sebuah Bangsa yang lebih baik, memberi segala sesuatu yang terbaik untuk bangsanya sendiri, demi perubahan Bangsa ini juga. Saya kira semangat nasionalisme Bangsa ini sudah mulai membaik setelah ada “sentilan” dari tetangganya. Tetapi semua itu belum lengkap untuk memenuhi persyaratan untuk menjadi “bangsa yang maju” atau “menuju ke arah bangsa yang maju”. Perlu adanya suatu semangat berjuang, sehingga dengan mental ini Bangsa ini bisa bersatu untuk membangun bersama-sama Bangsa ini dalam segala aspek. Bukankah Bangsa ini masih menganut asas gotong-royong?saya kira jawabannya iya. Setahu saya Bangsa ini belum pernah menyatakan diri untuk tidak lagi menganut asas tersebut. Saya kira dengan menggunakan asa tersebut pembangunan akan lebih mudah dijalankan, dan hasilnya juga akan lebih terlihat lagi. Semoga Bangsa ini tidak perlu mendapat “sentilan” lagi untuk membangkitkan semangat ini. SEMOGA.

Sabtu, 22 Januari 2011

Catatan1: Lukisanku Malam Ini



Lukisanku malam ini.
Ada yang berbeda dengan lukisanku malam ini. Bukan, bukan berarti aku mengambil aliran berbeda dalam melukis, apalagi mencoba teknik baru dalam membuat lukisanku kali ini. Mencoba hal baru sudah menjadi suatu kemakluman di masa globalisasi ini. Tetapi ada yang berbeda dengan lukisanku malam ini.
Mungkin bagimu tak ada yang berbeda dengan lukisanku malam ini. Masih dengan cat minyak, palet cokelat yang selalu setia menjadi tempat transit cat minyak sebelum ke kanvas. Aku juga masih memakai kanvas tipe standard, belum beralih ke vinyl. Tetapi kurasa ada yang berbeda dengan lukisanku malam ini, mungkin hanya aku yang dapat merasakannya. 
 
Tak selaras. Kurasa lukisanku malam ini tak selaras, Mencoba membuat kombinasi yang selaras dari warna-warna di palet ini ternyata tak seindah biasanya. Menyapukan kuas di atas kanvas ini ternyata membuatku semakin frustasi. Gagal. Warna-warna itu tak bersatu dengan suksesnya. Ada beberapa cacat di dalamnya. Di bagian kiri atas terlalu gelap, warna biru tuanya terlalu tebal, warna kuningnya kalah. Membuatnya seperti saling meniadakan, bukannya saling mendukung membuat gradasi warna yang indah seperti seharusnya. Tak selaras. Bagiku yang perfeksionis, semua itu sangat mengganggu. Aku menginginkan semua warnanya menyatu, membuat gradasi warna mencolok di sisi kanan atas dan bawahnya, namun spektrum warna yang kubuat ini gagal. Tak seperti yang kuharapkan. 
 
Setelah kurenungkan baik-baik, kukira lukisanku malam ini menggambarkan keadaan diriku. Ada yang tidak selaras di sini, ada yang tak seharusnya seperti ini. Dan aku baru menyadari hal itu. Hanya saja aku belum menemukan bagaimana cara membuatnya selaras. 
 
Lukisanku malam ini masih ku gulung di sudut kamarku. Kuharap suatu saat aku akan menemukan cara untuk membuatnya selaras.


Catatan 1 to be continue....

Book Review: A Different Love Story for the idealism lovers

Book : De Winst  (profit-deutch)
Author : Afifah Afra
Publisher : Afra Publishing
Date publishing : January 2008



Authored by a talented-moslem author, who has written more than thirty books. The Afifah Afra's best novel was published by Afra Publishing, and firstly published on January 2008.
A different love story for idealism-lovers. I think that’s the most suitable words to describe this novel. If you are wondering why i have chosen those words , it is because the author has brought a different taste in her novel. The writing on the cover of the book said that this novel is an idealism taste-booster up novel. Ya, in this novel, Afra was trying to boosting-up idealism, as you can see in her way describing the setting, detailed, illustrated precisely the setting in that era, which is really make us feel like in the middle 19th century, when the Dutch colonized Indonesia. Afra has proven her ability in making an innovation, developing something from most romantic novel did--always serving the same main problems, and finally : happy ending-- and practically being outstanding successfully. Moreover, Afra has found her own way to attract the readers until the end of the stories, something that most of the thick books did not have. In addition, the story consisting of some important values, that have been forgotten today. Just like the citizen’s responsibility to build their country, no matter how long you are out of the country; the children’s duty to obey their parents; and more societal values you can get. Afra illustrated the characters strongly, that makes the story more interesting.
Besides,  in order  to create that era’s circumstances, Afra used Javanese language and deutch in some dialogues, that may confusing some readers who do not understand these language. Because in some cases, the dialogue contains important parts of the story. While there is not any footnote or translation in this novel.
De Winst consists of twenty two chapters, which is enlighten the story about Rangga, one of the empire relatives-Indonesian student who was study in Holland, and his life after go back from Holland. In his way back home, he met Everdine Kareen Spinoza, a beautiful woman from Holland. And instantly, Rangga fell in love with her. Unfortunately, Rangga has been matched with his cousin, Sekar. Sekar was different with other women at that time, she grew as a brave girl, and againts the colonials apparently. At that era, in Java’s tradition, the elder’s command was very sacred, that you have to admit it, eventhough it is contradicted with your opinion. The story also illustrated the situation of Indonesia in that era, where the natural resource was controlled by the foreigner, as some of the inlander was began trying to take over the foreigner’s place, because the foreigner always treat Indonesian people rudely. And Rangga, as one of the educated inlander, directly being a willing to make it comes true. In this part, Afra illustrated Rangga’s personal conflict, among his engagement plan, then his feeling with Kareen, his responsibility as an educated inlander to create a good condition for Indonesian labours in the sugarcan factory where he works. Then the complexities,  tragedies, and betrayals has made the situation uncontrollabe. The story goes fast, as Afra used to be surprising the readers by unpredictable plot. And then the story became complicated, but believe me, this novel will makes you curious.
Disappointingly, the end of the story will not satisfy the readers. Afra made it the end of the story look common, and made a bad impression at the end. But do not worry about it, because this is the first novel from four. The end of this novel is the beginning of the second novel. If you do not satisfy with the end, you can read the rest novel. This novel is appropriate for you who are searching for different tasted novel without loosing the sense of a good novel. Primary for you idealism lovers. This novel will bring you back to the middle 20th century, and will give you detailed illustration about the setting of that era.

*the review of the second book is coming soon!